Book Review #4

Judul : the Rose and the dagger
Penulis : Renee Ahdieh
Penerbit : POP Imprint GPU (terjemahan)
Tahun terbit : 2016
Tebal buku : 486
buku kedua dari The Wrath and the Dawn Duology

Khalid dan Shahrzad terpaksa berpisah akibat kutukan yang mengancam, namun Shahrzad akhirnya kembali berkumpul dengan ayah dan adiknya yang berlindung di perkemahan padang pasir- empat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid- Pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad.

Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang dia Sayangi, Shahrzad diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzan akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya…

“Shazi,
Aku lebih suka warna biru dibanding warna lain. Aroma bunga lilac dari rambutmu adalah sumber siksaan berkepanjangan bagiku. Aku benci buah ara. Terakhir, aku tidak akan pernah lupa, dari seluruh hari-hari kehidupanku, kenangan tadi malam-
Karena tidak ada apa pun, tidak matahari, tidak hujan, bahkan tidak pula bintang paling teerang di langit gelap, yang mampu menandingi keistimewaan dirimu.”
-The wrath and the Dawn

Aku tidak bisa berhenti tersenyum saat membaca bagian-bagian saat Khalid dan Shahrzad bersama. Khalid amatlah manis! Tidakkah kamu setuju? (memaksa XD)

Namun aku cukup sedih disaat mereka harus berpisah, tetapi setidaknya dengan begitu Shahrzad akhirnya dapat belajar cara mengendalikan sihirnya. Namun, di perkemahan itu Shahrzad tidak sepenuhnya aman. Terdapat banyak tantangan dan Ancaman yang di tujukan kepada Shahrzad, namun itu tetap tidak menahan Shahrzad untuk berhenti berusaha.

Aku salut pada Shahrzad, setelah sekian banyak percobaan pembunuhan yang dikerahkan kepadanya, ia tidak merasa takut maupun menyerah. Malah, itulah yang membuatnya semakin berusaha untuk bisa mengendalikan sihirnya dan menghentikan perang.

Karena mereka adalah dua bagian dari satu kesatuan yang utuh. Khalid bukan miliknya. Dan dia bukan milik Khalid. Ini bukan tentang siapa milik siapa.
Namun tentang saling memiliki.

Keadaan Khalid sendiri cukup kacau -dimataku- karena tidak adanya Shahrzad. Bagaiman semua baik-baik saja dan mereka yang baru saling terbuka terhadap satu sama lain tiba-tiba harus menjauh akibat hancurnya kota -yang Khalid percaya sebagai kutukannya- membuat Jalal menyuruh Tariq untuk membawa serta Shahrzad supaya ia dalam keadaan aman.

Namun keadaan mulai berubah saat Shahrzad sudah mulai mengunjungi musa-effendi secara rutin, ia juga menyempatkan diri menemukan Khalid. Bersama-sama mereka berusaha untuk mengentikan kutukan itu, walau itu berarti mereka harus melalui tantangan.

“Hingga kau mampu belajar untuk merelakan kebencianmu, kau akan selalu lebih mencintai diri sendiri.”

Setelah Khalid dan Tariq berdamai, mereka sama-sama membuat kesepakatan untuk menjaga Shahrzad tetap aman. Namun, disaat kedua pemuda itu sedang tidak disekitar, terjadi pengkhianatan -oleh pihak dekat- yang tidak diduga oleh siapapun. Mengira sang adik dibawa pula, Shahrzad tidak melakukan perlawanan apapun dengan tujuan untuk menjaga sang adik tetap aman.

Aku senang saat kedua pemuda itu akhirnya berdamai dan meninggalkan Shahraz yang kebingungan, namun bersyukur. Namun ternyata Kejutan tidak berhenti disana saja, karena yang selanjutnya terjadi benar-benar tidak terduga. Dan Shahraz seperti biasa, mementingkan orang-orang terkasihnya terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri.

“Tidak diperlukan nyali untuk membunuh. Tapi dibutuhkan keberanian untuk hidup.”

Namun seperti adanya perkhianatan, ada juga orang-orang yang berpihak kepadanya dan membantunya lari ke lokasi yang aman. Disanalah saat kebenaran mulai terungkap, dan Shahrzad tahu dengan baik siapa yang dapat ia percaya dan tidak.

Disaat yang sama, Khalid, Tariq, juga Omar menyatukan kekuatan, berusaha untuk mencari cara menyelamatkan Shahrzad, dan menyelesaikan perang ini supaya takkan berlanjut lagi, beserta kutukan yang selama ini menghantui-nya.

“Menginginkan dan membutuhkan adalah dua hal yang sagat berbeda.”

Aku benar-benar menyukai cerita ini. Endingnya agak mengecewakan bagiku karena aku sebenarnya mengharapkan detail yang lebih, tetapi selebih itu aku cukup puas dengan sequel-nya.

Rating : ☆☆☆☆☆ 5/5

“Kekuatan di balik kata-kata terletak pada orang yang mengucapkannya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: