Book Review #3

Judul : The wrath and the Dawn
Penulis : Renee Ahdieh
Penerbit : POP, imprint KPG (terjemahan)
tahun terbit : 2016
tebal buku : 447

“Kau tak bisa meramalkkan masa depan. Dan tak ada yang bisa kau lakukan dengan masa lalu.”

Khalid ibnu al-Rashid, Khalif khorasan yang berusia delapan belas tahun, dikenal sebagai seorang monster. Ia menikahi gadis muda setiap malam dan menjerat pengantin barunya dengan tali sutra saat fajar tiba.

Saat sahabatnya menjadi korban kezaliman Khalid, Shahrzad al-Khayzuran mengajukan diri menjadi pengantin sang Khalif dengan tujuan ingin membalas dendam. Namun, saat malam demi malam berlalu, saat Shahrzad memperdaya Khalid dengan menceritakan kisah-kisah yang membuatnya terus bertahan -walau setiap fajar bisa jadi merupakan saat terakhirnya- ia malah mendapati hal yang selama ini diduganya ternyata tidak benar adanya.

Bersama dengan terkuaknya rahasia sang Khalid, -yang dikatakannya monster berdarah dingin, yang akan tetapi mata emasnya memancarkan kehangatan- bahwa ia tidak lebih daripada pemuda dengan jiwa yang tersiksa, Shahrzad mulai mendapati dirinya jatuh hati kepadanya…

“Cinta adalah kekuatan tersendiri, Sayyidi. Karena cinta, orang mampu memikirkan hal-hal mustahil.. dan sering kali mencapai hal-hal mustahil. Aku tak akan meremehkan kekuatannya.”

Cerita yang terinspirasi oleh Kisah 101 Malam ini benar-benar berhasil memikatku. Aku sudah menduga bahwa Cerita ini akan menjadi Cerita favoritku, bahkan saat sebelum aku sempat menyelesaikan membaca buku ini. Buku ini membuatku Jatuh cinta pada kisah ini saat membacanya.

Shahrzad merupakan gadis dengan tekad yang kuat dan didorong dengan dendam akan kematian sahabatnya, Shahrzad mencalonkan diri untuk menjadi pengantin sang khalif. Namun, setelah hari-hari berlalu dan Shahrzad menjadi lebih dekat dengan sang Khalif, mereka tanpa sadar Jatuh kepada satu sama lain.

“Kau memang tertawa terlalu keras. Dan kuharap kau tidak pernah berhenti tertawa.”

Shahrzad tidak bisa memungkiri, bahkan dengan rahasia yang terbentang diatara mereka, Ia tahu dengan baik di lubuk hatinya jika Khalid bukanlah sosok monster yang selama ini disangka orang-orang.

Saat Shahrzad menjalani hari-harinya menjadi sang Khalifa Khorosan, masalah demi permasalahan tampaknya selalu menemukan jalannya. Namun, Shahrzad tidak pernah menyerah begitu saja tanpa perlawanan, tidak pada permasalahan, dan tidak juga pada sang empu-nya hatinya.

“Kalau kau berkenan, beri dia cinta yang akan membuatnya mampu melihat sendiri. Bagi jiwa yang hilang, harta semacam itu begitu berharga layaknya emas. Layaknya mimpi.”

Banyak hal yang benar-benar tidak terduga olehku. Untuk sesaat aku ingin berteriak akibat manisnya suatu scene, dan untuk sesaat aku ingin melempar semua barang yang bisa kugapai akibat membaca buku ini. Renee Ahdieh berhasil mengacaukan perasaanku dengan karya-nya ini.

Aku tahu cinta itu rapuh. Dan mencintai seseorang sepertimu hampir mustahil. Seperti memegang sesuatu yang remuk akibat amukan badai pasir. Kalau kau ingin dia mencintaimu, lindungi dia dari badai itu…”

“dan pastikan bahwa badai itu bukan dirimu.”

Sampai sini saja Review-ku, (aku takut malah membawa perasaanku pada buku keduanya di review ini.)

Rating : ☆☆☆☆☆ 5/5

Have i told you that this is now one of my favorite book? 😍❤

“Apa yang kau lakukan kepadaku, gadis pembawa bencana?”
“Jika aku bencana, maka kau harus menjaga jarak, kecuali jika kau ingin dihancurkan.”
“Tidak,” “Hancurkan Aku.”

KHALIDDDD OH MY GOSHHHH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: